1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
kurniawangunadi

Ujian

kurniawangunadi

Jika kau tak siap diuji, maka ujian itu akan tetap ada di depanmu, menantimu siap menghadapinya. Begitu seterusnya dengan ujian-ujian yang lain, mengantri dibelakangnya, semakin banyak. Jika kita tidak menghadapinya, kita tidak akan beranjak kemana-mana, diam ditempat.

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita melihat kebelakang dan menyaksikan betapa banyak ujian yang telah kita lewati, semuanya terasa seperti baru kemarin sore. Segala keresahan, kekhawatiran, ketakutan itu sudah terlewati. Dan perasaan ketika ujian datang selalu begitu, ragu, khawatir, takut, dsb. 

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita sudah berhasil memahami, mengapa kita mesti melewati ujian-ujian tersebut. Sudah seharusnya itu cukup untuk menjadi penyemangat kita atas ujian yang ada didepan mata, sesuatu yang besar menanti didepannya.

Esok atau lusa, kita mungkin akan banyak bersyukur. Sebab hadiah terbaik dari setiap ujian bukanlah di hasilnya, melainkan di rangkaian prosesnya. Sesuatu yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih saleh, dan menjadi manusia yang lebih bernilai.

Yogyakarta, 30 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

kurniawangunadi

Perasaanmu

kurniawangunadi

Urusanmu terhadap perasaanmu, adalah urusanmu sendiri. Meski pernah ada yang datang, kemudian pergi. Ada yang memberi harapan, kemudian hilang bagai ditelan bumi. Semuanya menjadi urusanmu.

Sebanyak apapun kita membuat alasan, juga pembenaran. Dan seingin apapun kita menimpakan apa yang terjadi sebagai kesalahan orang lain. Justru, saat-saat seperti itulah yang membuat kita tidak bisa beranjak kemana-mana.

Hal yang paling sulit selain bersyukur adalah berlapang dada. Menerima kenyataan bahwa memang itu semua adalah kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mengendalikan diri. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan perasaan, emosi, pikiran, dan membiarkannya terbang bebas memikirkan apapun. Kita terperangkap dalam asumsi yang kita buat sendiri.

Biarkanlah perasaan itu hilang seiring perjalanan. Seiring waktu saat kita berusaha menerima bahwa kitalah yang salah dan kita bersedia untuk memaafkan diri kita sendiri.

Memaafkan diri kita di masa sebelumnya yang lalai, yang lengah, yang tidak bisa mengendalikan perasaan, yang membiarkan orang lain masuk dan pergi begitu saja, yang membiarkan perasaan berbunga-bunga dengan asumsi bahwa ini akan berakhir indah selamanya. Padahal, kita tahu, kita tidak bisa mendahului takdir.

Upaya kita adalah menerima dan memaafkan, diri sendiri.

Yogyakarta, 2 November 2017 | ©kurniawangunadi

dwitasaridwita

Jeda sebelum Temu

dwitasaridwita

Bagaimana bisa kudeskripsikan perasaan, jika seluruh kata dalam bibirku kelu setiap kali aku merindukanmu? Bagaimana mengatakan padamu seberapa dalam perasaan rinduku, jika percakapan kita sebatas via suara dan tulisan semata?

Aku terjebak dalam perasaan yang sulit kupahami, rasanya aku selalu ingin memelukmu tanpa henti. Sementara kamu harus kembali ke dalam rutinitasmu, sementara aku harus kembali ke dalam duniaku. Dan, hanya bisa kulepas rindu, dengan memandangi fotomu.

Mungkin, ini sedikit mengganggu, jika perasaan rinduku menyebabkan jam tidurmu terganggu. Mungkin, ini sedikit mengusik, karena aku seringkali meminta satu jam untuk mendengar suaramu di balik dua puluh empat jam milikmu. Aku tidak pernah mampu mengisi jeda dalam pertemuan kita tanpa mempedulikan sosokmu yang ada di sana. Maaf, jika sebelum kita bertemu, aku sibuk memupuk perasaan, hingga segelanya kelak meledak dalam pelukanmu.

Aku tidak sabar menunggu hari saat kita bertemu, saat aku memiliki enam jammu, dari dua puluh empat jam yang kaumiliki. Saat aku memiliki seluruh jiwa ragamu dan bebas memelukmu dalam setiap detik yang kumau. Saat aku dengan setia mengecupmu, tertawa ketika kamu membisikan sesuatu di telingaku, atau memandangimu dalam jarak beberapa senti.

Aku rindu dan ingin sekali memelukmu lebih lama dari selamanya.

krisanyuanita
  • <p> <b>X:</b> Aku rindu<p/><b>Y:</b> Maaf, kurang paham dengan maksudmu. Bisa tolong dijelaskan?<p/><b>X:</b> Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?<p/><b>Y:</b> Bukankah kita sekarang telah kembali seperti dulu, ke saat di mana saling mengenal tapi tak merasa perlu untuk saling berdekatan.<p/><b>X:</b> Bukan begitu maksudku. Aku ingin kembali ke saat di mana kita menjadi sahabat.<p/><b>Y:</b> Kaca yang pecah tidak bisa dikembalikan utuh seperti semula, Tuan. Jadi biarkan kaca-kaca itu di lantai, mengambilnya dan berusaha merekatkan kembali hanya akan melukai tangan.<p/><b>X:</b> ...<p/></p>