Wadah ucapan adalah hati. Gudangnya adalah pikiran. Penguatnya adalah akal. Pengungkapnya adalah lisan. Jasadnya adalah huruf. Ruhnya adalah makna.
Jika kau tak siap diuji, maka ujian itu akan tetap ada di depanmu, menantimu siap menghadapinya. Begitu seterusnya dengan ujian-ujian yang lain, mengantri dibelakangnya, semakin banyak. Jika kita tidak menghadapinya, kita tidak akan beranjak kemana-mana, diam ditempat.
Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita melihat kebelakang dan menyaksikan betapa banyak ujian yang telah kita lewati, semuanya terasa seperti baru kemarin sore. Segala keresahan, kekhawatiran, ketakutan itu sudah terlewati. Dan perasaan ketika ujian datang selalu begitu, ragu, khawatir, takut, dsb.
Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita sudah berhasil memahami, mengapa kita mesti melewati ujian-ujian tersebut. Sudah seharusnya itu cukup untuk menjadi penyemangat kita atas ujian yang ada didepan mata, sesuatu yang besar menanti didepannya.
Esok atau lusa, kita mungkin akan banyak bersyukur. Sebab hadiah terbaik dari setiap ujian bukanlah di hasilnya, melainkan di rangkaian prosesnya. Sesuatu yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih saleh, dan menjadi manusia yang lebih bernilai.
Yogyakarta, 30 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi